SELAMAT DATANG DIBLOG MAPALA UNSULTRA PUSAT INFORMASI DAN KEGIATAN PECINTA ALAM SULAWESI TENGGARA

BROSUR ROCK TO THE TOP

BROSUR ROCK TO THE TOP

PENDAKI TEWAS

>> Kamis, 25 Juni 2009

Pendaki Italia Tewas Saat Ski di K2

Liputan6.com, Roma: Pendaki legendaris asal Italia Michele Fait tewas saat berski menuruni lereng Gunung K2 di Pakistan pada Selasa silam. Fait jatuh di sebuah celah yang curam di hadapan rekannya dari Swedia, Fredrik Ericsson. Demikian dilaporkan Corrierre Dello Sport, Rabu (24/6) waktu setempat, seperti yang dikutip ANTARA.

Kecelakaan ini terjadi di rute Cesen atau sisi tenggara K2 yang tingginya mencapai 8.611 meter di atas permukaan laut. Fait sebelumnya pernah berski melintasi 50 lereng bersalju yang ekstrim di Pegunungan Alpen, Andes, dan Himalaya.(ANTARA/YUS)

Selengkapnya.... Read more...

FOSIL KANIBAL DALAM GUA

>> Rabu, 24 Juni 2009

Benarkah Manusia Pertama Eropa Kanibal?

Liputan6.com, Atapuerca: Jika penganut evolusionis-rasis mendengar penemuan arkeologis di Atapuerca, Spanyol, mungkin mereka akan terperanjat. Apa pasal? Ini lantaran teori yang mengatakan manusia kulit putih adalah manusia paling maju dalam evolusi manusia terbantahkan.

Berdasarkan hasil analisis peninggalan manusia pertama Eropa ternyata mengindikasikan mereka adalah kaum kanibalis. Ini terungkap dari studi terbaru Atapuerca project. Demikian dikatakan Jose Maria Bermudez de Castro, salah satu direktur dalam proyek Atapuerca.



Sisa-sisa peninggalan tersebut ditemukan di sebuah gua dalam kondisi terpencar-pencar, patah dan bercampur dengan beberapa hewan, seperti kuda dan rusa. Praktek kanibal yang mereka lakukan cukup mengerikan. Mereka membunuh musuh mereka dan kemudian memakannya.

Korbannya pun bukan hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak. Padahal pada saat itu jumlah makanan cukup berlimpah. Ini menandakan mereka melakukan kanibalisme bukan lantaran kekurangan makanan. Diduga, praktik kanibalisme itu berlangsung cukup lama. Jika penemuan ini diperkuat dengan bukti-bukti lain, ini merupakan pukulan telak bagi penganut evolusionis-rasis Eropa.Iswardani(ANS/AFP)

Selengkapnya.... Read more...

KONFLIK KAMPUS


AMIK Yapennas Lumpuh, Unsultra Kondusif

Kendari---Dua kampus berbeda yakni AMIK Yapennas dan Unsultra kini sedang dilanda pergolakan internal. Bila di AMIK urusannya karena tuntutan akreditasi kampus yang berbuntut demo bahkan sudah ada penyegelan kampus, maka di Unsultra keributan dipicu kontroversi SK BEM. Kasus ini bahkan sempat membuat dua kelompok mahasiswa adu jotos.
Tapi suasana kedua kampus itu kini berbeda. Di AMIK, situasi masih panas sedang di Unsultra mulai kondusif. Kampus AMIK Yapennas di sekitar bundaran Mandonga sudah dua hari ini tak punya aktivitas akademis. Pintu depan gedung yang mirip Ruko itu ditutup rapat para mahasiswa yang beberapa pekan terakhir getol berunjuk rasa menuntut proses akreditasi kampus. Para dosen dan pejabat AMIK pun tak punya reaksi apa-apa selain membiarkan keadaan itu berlangsung.



Aksi penutupan kampus yang berlanjut hingga kemarin memang sempat memancing reaksi dari para mahasiswa lain yang tak mau peduli soal akreditasi itu. Mahasiswa yang pro yayasan mendesak agar pintu utama kampus dibuka dan perkuliahan harus berjalan.
Situasi tersebut kemudian memicu emosi kedua kubu hingga terjadi perang mulut antara mahasiswa yang kontra dan pro yayasan. Argumentasi para mahasiswa pro yayasan juga terdengar naïf. Mereka mengaku tidak butuh akreditasi karena yang penting memiliki ilmunya. “Daripada proses perkuliahan tidak jalan, mending buka saja kampus dan kita belajar," teriak salah satu mahasiswa yang pro.
Pernyataan tersebut dibantah keras mahasiswa kontra yayasan yang menilai, meski berbagai keterampilan dapat diraih di AMIK Yapennas tapi tidak tanpa legalitas akan percuma juga. Pasalnya, dunia kerja tidak sekadar melihat keterampilan yang dimiliki, tapi rekruitmennya lebih awal meninjau dari legalitas ijazah yang dimiliki.
Korlap Front Mahasiswa Demokrasi (FMD), kelompok penutut akreditasi, Frenki Lebang mengatakan, proses penyegelan kampus AMIK Yapennas akan terus dilakukan. Mereka akan tetap menjaga kampus dan memboikot perkuliahan sampai ada kepastian yang jelas terhadap proses perpanjangan izin oprasional dan akreditasi program studi.
Salah satu mahasiswa pro Yayasan, Asrahim berharap agar perkuliahan tetap berjalan sambil menunggu proses akreditasi dilakukan. Pasalnya, ia merasa sangat rugi waktu dan biaya transportasi ke kampus tapi tetap tidak kuliah. Ia berharap agar pihak yayasan bisa mengurusi mereka. "Pihak yayasan saat ini sedang mengurus akreditasi itu di Jakarta. Jadi, kami berharap agar kampus dibuka dan perkuliahan berjalan," jelasnya.
Ketika koran ini mengonfirmasi kepada Direktur AMIK Yapennas Kendari, Hasria, S.Pd., M. Si menolak dengan alasan kondisi kesehatannya terganggu. Ia berjanji bersedia memberikan penjelasan hari ini. "Saya tidak bisa karena kesehatan terganggu dan masih akan membahas masalah tersebut dengan pihak yayasan," ujarnya saat dikonfirmasi melalui ponselnya.
Sedangkan di Unsultra, suasan perlahan mulai kondusif. Pasca insiden beberapa hari lalu, proses perkuliahan tetap berlanjut, aktivitas kampus pun mulai normal. Meskipun, kondisi tersebut dinilai masih sangat labil dan masih berpotensi memicu konflik.
Mahasiswa kontra BEM terpilih, Juapril yang juga pengurus Mapala Unsultra berharap agar konflik dapat dimediasi oleh pihak rektorat. Pihaknya menginginkan agar pihak rektorat mempertemukan keduanya dan meninjau kembali SK kepengurusan BEM terpilih. "Soalnya, proses pemilihan BEM Unsultra tidak melalui mekanisme dan proses sesungguhnya," terang Juapril yang juga Ketua BEM Fakultas Hukum Unsultra itu, kemarin.
Di tempat terpisah, pengurus BEM Unsultra terpilih, Hasrul Liana sepakat jika penyelesaian konflik dimediasi pihak rektorat. "Kami tetap berharap agar ada perdamaian dengan pihak yang kontra pengurus BEM. Hanya saja, kami akan tetap pertahankan bahwa pengurus BEM terpilih itu sah dan dibuktikan dengan SK Rektor Unsultra, Ichlas Mappilawa," jelas Hasrul Liana.
Akibat polemik terbitnya SK kepengurusan BEM Unsultra tersebut, tindak kekerasan pun terjadi di Kampus Unsultra. Pengurus BEM terpilih mengaku menjadi korban pengeroyokan dari mahasiswa yang kontra. Dalam insiden yang terjadi Senin (15/6) lalu, tiga pengurus BEM jadi korban yakni Hasrul Liana, Amdala dan Saleyanto.
"Saya hanya lecet di betis, Amdala memar di pipi, dan Saleyanto patah tangan kiri. Saleyanto sempat dirawat satu hari di RSUD Sultra, tapi kini sudah kembali ke rumahnya," terang Hasrul. Ia pun bersama dua rekannya itu melaporkan kasus tersebut ke Mapolsekta Kemaraya, Selasa (16/6) lalu.
Kapolsekta Kemaraya, AKP Iwan Irmawan melalui Kanit Reskrimnya, Aiptu Alimuddin membenarkan adanya laporan dari Hasrul Liana Cs tentang kasus pengeroyokan itu. Kini, kasus tersebut sedang dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian. "Kami masih menyelidiki kasus tersebut dan akan tetap ditindaklanjuti," terangnya. (cr3)

Selengkapnya.... Read more...

DEMO LINGKUNGAN

>> Minggu, 21 Juni 2009

Mahasiswa Tolak Upaya Status Hutan Lindung Kendari

Rencana Pemprof Sultra menurunkan Status Kawasan Hutan Lindung
481Ribu Hektar menjadi Kawasan Produksi diTolak Puluhan Mahasiswa
Pemerhati Lingkungan ( SIMPEL ) Sultra.Hal tersebut di suarakan dengan menggelar aksi unjuk rasa di kantor Dinas
kehutanan Sultra,kemarin (27/2)

Mahasiswa tersebut menilai upaya yang akan dilakukan Pemprov Sultra yang
dimasukkan dalam draf refisi tata ruang wilayah sultra dengan dalih
percepatan pembangunan sama sekali tidak akan membawa keuntungan bagi
rakyat.Malah sebaliknya,penuruna n status hutan lindung termasuk kawasan
konservasi yang inklud didalamnya hanya membawa dampak buruk bagi
ekosistem lingkungan dan merugikan rakyat.



Bariun,salah seorang korlap SIMPEL sultra dalam pernyataan sikap
menyatakan mahasiswa dengan tegas menolak usulan Pemprof tersebut dan
pihaknya juga menghimbau masyarakat agar ikut mengontrol dan mengawasi
program pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat.Termasuk upaya
penurunan status hutan lindung di Sultra.
“Jangan jadikan PP,Kepmen atau perda sebagai upaya menyelamatkan kebijakan
yang hanya membuat masyarakat jadi korban “katanya.

Ia juga mendesak dinas kehutanan Sultra agar memberikan trasparansi dan
informasi yang detail terkait luas kawasan di sultra mulai dari kawasan
suaka alam,hutan lindung,hutan produksi terbatas,hutan
produksi,hutanprodu ksi konversi dan kawasan hutan yang di gunakan areal
lain.

Semetara itu,Kadishut sultra,Amal Jaya yang menemui massa
mengatakan,rencana penurunan status hutan lindung yang dimaksud Pemprof
bukan 481 ribu hektar tetapi sesuai usulan “hanya” 224 ribu hektar.

Ia mengatakan usulan tersebut baru merupakan wacana karena perubahan
status hutan lindung menjadi hutan produksi ada mekanisme yang
mengaturnya, sehingga tidak serta merta recana tersebut di setujui.

Usulan dilakukan oleh pemprov ke Presiden dan dibahas secara teknis oleh
Kementrian Departemen Kehutanan dan akan di ambil kesimpulan layak atau
tidak diturunkan setelah ada penelitian dari tim terpadu” terangnya.tim
terpadu yang dimaksud beranggotakan personal dari LIPI,unsure perguruan
tinggi dan NGO atau lembaga social non pemerintah yang akan melakukan
penelitian yang akan melakukan pengkajian terkait dengan perubahan status
tersebut.

Mengutip pasal 19 UU Kehutanan,Amal Jaya mengatakan,apa yang dilakukan
oleh Pemprov itu sudah sesuai, dan tidak menyalahi aturan, yakni luas
kawasan hutan lindung di suatu daerah minimal 30% dari luas daratan.
Sementaradi sultra dari 2 juta hektar lebih luas daratan, 68,17 % di
antaranya merupakan kawasan hutan lindung.

“kita tidak pernah merubah hutan. Hutan tetaphutan, hanya fungsi di rubah,
” tegasnya.
Dan untuk menghindari pro dan kontra terkait dengan rencana perubahan
status hutan lindung tersebut, Amal Jaya mengatakan siap membuat forum
usulan yang di masukkan dalam refisi tata ruang wilayah sultra dengan
leading sektor lainnya yaitu Dinas pertambangan dan Energi Sultra.

Selengkapnya.... Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP